PROBOLINGGO – PT Paiton Energy selaku pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton di Kabupaten Probolinggo memastikan operasional pembangkit tetap berjalan stabil meskipun dinamika geopolitik global berpotensi memengaruhi rantai pasok sektor energi.

Perusahaan telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan dampak konflik internasional, khususnya terkait ketersediaan suku cadang serta potensi fluktuasi harga komoditas energi.

Chief Financial Officer PT Paiton Energy, Bayu Anggoro Widyanto, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan kajian internal mengenai potensi gangguan pada rantai pasok global yang dapat terjadi akibat konflik di sejumlah wilayah dunia.

Menurut Bayu, perusahaan perlu menyiapkan berbagai skenario karena konflik geopolitik berpotensi berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Salah satu komisaris kami, Marsetio yang merupakan mantan Kepala Staf Angkatan Laut, juga sempat berdiskusi dengan kami. Berdasarkan analisis beliau, konflik ini kemungkinan tidak berlangsung sebentar. Karena itu kami harus bersiap sejak dini,” ujar Bayu saat dihubungi, Jumat (6/3/2026).

Bayu menjelaskan, sektor energi memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap rantai pasok global. Sejumlah komponen dan suku cadang pembangkit masih didatangkan dari luar negeri.

Salah satu jalur perdagangan internasional yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, yang merupakan rute strategis pengiriman komoditas energi dunia.

“Dampaknya tentu ada karena supply chain kami bersifat global. Beberapa sparepart masih harus didatangkan dari luar negeri, sehingga itu yang perlu kami antisipasi,” katanya.

Meski demikian, ia memastikan kondisi operasional PLTU Paiton saat ini masih relatif aman. Hal ini karena proses pemeliharaan tahunan atau outage pembangkit telah selesai dilakukan pada awal tahun.

“Outage tahun ini sudah selesai di awal tahun. Jadi sepanjang tahun ini tidak ada lagi outage besar, sehingga mudah-mudahan tidak ada kendala rantai pasok jika sewaktu-waktu harus melakukan pengadaan sparepart impor,” jelasnya.

Selain mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok, perusahaan juga terus memonitor perkembangan harga komoditas energi global. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah kerap memicu kenaikan harga minyak yang kemudian berdampak pada komoditas energi lainnya.

Namun untuk bahan bakar utama pembangkit, yakni batu bara, Bayu menilai pasokan dari dalam negeri masih relatif aman.

“Batu bara sebagai bahan baku utama kami berasal dari dalam negeri, sehingga secara pasokan tidak terlalu terdampak langsung oleh geopolitik di Timur Tengah,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui potensi kenaikan harga batu bara tetap terbuka karena biasanya mengikuti tren kenaikan harga minyak dunia.

“Biasanya ketika harga minyak naik akibat kondisi di Timur Tengah, komoditas lain ikut terdorong naik. Kemungkinan batu bara juga bisa ikut meningkat,” tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah saat ini juga tengah meninjau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang batu bara untuk memastikan ketersediaan pasokan bagi sektor ketenagalistrikan nasional.

PT Paiton Energy bersama Asosiasi Pengusaha Listrik Batu Bara Indonesia juga telah melakukan pembahasan dengan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan guna memastikan pasokan batu bara tetap terjaga, terutama menjelang periode kebutuhan listrik tinggi seperti Lebaran.

Selain isu pasokan energi, perusahaan juga mencermati meningkatnya permintaan listrik di sistem kelistrikan Jawa–Bali. Hal ini terlihat dari kenaikan capacity factor pembangkit yang kini telah melampaui target awal perusahaan.

“Dari yang sebelumnya dianggarkan sekitar 80 persen, sekarang capacity factor kami sudah di atas 90 persen. Artinya konsumsi batu bara juga ikut meningkat,” jelas Bayu.

Peningkatan produksi listrik tersebut berdampak pada menurunnya stok batu bara di sejumlah pembangkit. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Paiton Energy, tetapi juga di beberapa pembangkit lain di kawasan Paiton maupun di sistem kelistrikan Jawa–Bali.

“Stok batu bara memang menurun, bukan hanya di Paiton Energy. Di pembangkit lain seperti Jawa Power dan PLN Nusantara Power juga mengalami kondisi serupa. Di beberapa pembangkit lain di sistem Jawa-Bali stoknya juga sedang turun,” katanya.

Meski begitu, Bayu menegaskan pemerintah telah memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut dengan menugaskan sejumlah perusahaan pemasok batu bara guna memastikan pasokan bahan baku bagi pembangkit listrik nasional tetap terjaga.