JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mencapai level tertinggi setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan operasi militer berskala besar terhadap sejumlah fasilitas strategis Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.
Presiden AS, Donald Trump, secara resmi mengumumkan bahwa serangan tersebut menyebabkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di kompleks kediamannya di Teheran melalui unggahan di media sosial.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, turut mengonfirmasi bahwa kompleks utama di Teheran dihancurkan lewat serangan mendadak yang terkoordinasi, dengan tujuan melumpuhkan sistem pertahanan dalam negeri Iran.
Otoritas Iran kemudian menyampaikan konfirmasi resmi atas wafatnya Khamenei. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa negara menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Sejumlah Petinggi Iran Tewas Menurut Klaim Israel
Operasi militer gabungan tersebut—yang oleh Departemen Pertahanan AS diberi sandi “Operation Epic Fury” dan oleh Israel dinamai “Lion’s Roar”—difokuskan pada infrastruktur militer vital Iran. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah mengerahkan sekitar 200 jet tempur yang menjatuhkan ratusan amunisi ke kurang lebih 500 target strategis secara simultan.
Target utama mencakup fasilitas komando dan kendali Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), sistem pertahanan udara, serta lokasi peluncuran rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).
Daftar Petinggi Militer Iran yang Tewas
Jika kabar wafatnya Ayatollah dan sejumlah pejabat tinggi tersebut benar, maka peristiwa ini akan menambah panjang daftar petinggi militer Iran yang gugur dalam konflik. Pada Juni 2025, ketika eskalasi Iran versus AS memanas, sejumlah komandan IRGC juga dilaporkan tewas.
Di Iran, IRGC merupakan institusi yang sangat berpengaruh—dipandang sebagai pilar utama kekuatan negara, baik dalam aspek militer, politik, keamanan regional, maupun ekonomi.
Berikut nama-nama petinggi militer Iran yang dilaporkan tewas:
1. Mayor Jenderal Mohammad Bagheri
Bagheri merupakan komandan veteran IRGC yang memegang berbagai posisi strategis sejak 1979. Pada 2016, ia ditunjuk sebagai komandan militer tertinggi oleh Ayatollah Ali Khamenei.
Ia masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan dikenal sebagai arsitek strategi militer yang berperan dalam transformasi angkatan bersenjata Iran pascapemberlakuan kembali sanksi AS serta meningkatnya konfrontasi dengan AS dan Israel.
2. Mayor Jenderal Hossein Salami
Salami menjabat sebagai komandan tertinggi IRGC sejak April 2019. Ia berperan penting dalam peristiwa Januari 2020 saat IRGC menyerang pangkalan militer AS di Irak sebagai respons atas pembunuhan Qassem Soleimani.
Ia dikenal sebagai pengkritik keras kebijakan AS dan Israel serta menilai kehadiran militer Amerika di kawasan sebagai sumber instabilitas.
3. Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh
Hajizadeh dilaporkan tewas pada 13 Juni 2025. Sebagai komandan Divisi Dirgantara IRGC sejak 2010, ia dikenal sebagai pengembang utama teknologi rudal dan drone Iran serta berperan signifikan dalam konflik 12 hari.
Meski sesekali tampil di media, IRGC menjaga eksposur publiknya tetap terbatas demi alasan keamanan.
4. Mayor Jenderal Gholam-Ali Rashid
Rashid memimpin Markas Pusat Khatam al-Anbiya, pusat komando terpadu angkatan bersenjata Iran. Ia dilaporkan tewas pada 13 Juni bersama sejumlah komandan senior lainnya, termasuk putra mudanya.
Ia adalah veteran IRGC sejak Perang Iran–Irak dan memegang posisi strategis sejak 1979.
Alasan Trump Melancarkan Operasi
Presiden Trump menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan melumpuhkan kapasitas produksi rudal Iran, menghancurkan armada angkatan lautnya, serta memastikan Iran tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir. Ia juga menyampaikan ultimatum kepada militer Iran untuk menyerah demi memperoleh amnesti, atau menghadapi operasi lanjutan yang lebih mematikan.
Dampak Domestik dan Seruan Perubahan Rezim
Eskalasi terjadi di tengah kebuntuan perundingan nuklir yang dimediasi Oman. Washington dan Tel Aviv disebut memanfaatkan momentum ini untuk mendorong perubahan rezim, bahkan menyerukan warga sipil Iran untuk mengambil alih pemerintahan.
Dampak serangan di dalam negeri Iran dilaporkan sangat luas. Bulan Sabit Merah Iran mencatat sedikitnya 201 korban jiwa dan 747 luka-luka di 24 dari 31 provinsi, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, dan Kermanshah.
Media pemerintah melaporkan 85 orang tewas dalam serangan di sebuah sekolah dasar di Minab, Provinsi Hormozgan. Area sekitar kantor Presiden Masoud Pezeshkian juga menjadi sasaran, meski ia dilaporkan selamat. Otoritas penerbangan sipil Iran segera menutup wilayah udara nasional disertai pemadaman internet skala besar.
Serangan Balasan ke Pangkalan AS dan Israel
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan ilegal. Sebagai respons, IRGC melancarkan serangan balasan berskala luas.
Laporan intelijen menyebutkan sekitar 150 rudal balistik dan puluhan drone diluncurkan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Di Israel, layanan ambulans Magen David Adom melaporkan sejumlah korban luka akibat pecahan proyektil dan gelombang kejut di wilayah tengah dan utara, serta satu korban jiwa di Tel Aviv setelah rudal menghantam sebuah gedung.
Pangkalan militer AS yang menjadi sasaran meliputi Al Udeid (Qatar), Al Dhafra (UEA), markas Armada Kelima AS di Bahrain, serta Ali Al Salem di Kuwait. IRGC mengklaim telah menghantam kapal pendukung tempur AS dan merusak sistem radar FP-132 di Qatar.
Kerusakan turut meluas ke infrastruktur sipil. Di UEA dilaporkan adanya korban jiwa akibat puing proyektil di Abu Dhabi dan insiden yang melukai staf di Bandara Internasional Dubai. Di Bahrain, sebuah drone dilaporkan menghantam gedung tinggi dan memicu kebakaran besar.
Ancaman terhadap Rantai Pasok Energi dan Respons Global
Dari sisi ekonomi global, misi angkatan laut Uni Eropa (EUNAVFOR ASPIDES) mengeluarkan peringatan kewaspadaan tinggi. IRGC dilaporkan melarang kapal komersial melintasi Selat Hormuz—jalur vital yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas dunia. Potensi blokade berisiko memicu gangguan rantai pasok energi dan lonjakan harga komoditas.
Krisis ini juga berdampak pada sektor penerbangan regional. Sejumlah maskapai internasional seperti Emirates, British Airways, Wizz Air, dan Lufthansa menghentikan operasional menuju area konflik demi menjaga keselamatan.
Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat atas permintaan Prancis, Tiongkok, dan Rusia. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyayangkan gagalnya jalur diplomasi, sementara para pemimpin Eropa mendesak de-eskalasi segera guna mencegah perang regional yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.