JAKARTA – PT Arinas Pangan Nusantara (Persero) mengumumkan telah mendatangkan 1.000 unit pikap dan truk impor dari India untuk mendukung kebutuhan Koperasi Desa Merah Putih.

Langkah tersebut muncul di tengah perdebatan terkait rencana masuknya merek kendaraan asal India seperti Tata Motors dan Mahindra & Mahindra ke pasar Indonesia. Beberapa hari sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, meminta agar rencana impor tersebut ditunda guna menjaga keberlangsungan industri otomotif nasional.

Terlepas dari polemik tersebut, kebijakan ini memunculkan pertanyaan lebih luas: bagaimana India mampu membangun industri otomotif yang begitu kuat? Padahal, secara historis, India dan Indonesia memiliki usia kemerdekaan yang hampir berdekatan—India merdeka pada 1947, hanya terpaut dua tahun dari Indonesia. Namun, India berhasil menjadikan sektor otomotifnya sebagai kekuatan global yang kini menarik perhatian Indonesia.

Fondasi dan Titik Balik

Sejak kemerdekaan, India sebenarnya telah memiliki produsen otomotif domestik seperti Hindustan Motors, Premier Automobiles, Tata, dan Mahindra. Keempatnya menjadi pondasi awal industri kendaraan di negeri tersebut.

Namun pada masa awal, industri otomotif India berkembang dalam sistem ekonomi tertutup dan sangat protektif. Berdasarkan riset “Evolution and Growth of Indian Auto Industry” (2011), sektor ini lama berada dalam rezim perizinan ketat atau license raj. Produksi, ekspansi pabrik, hingga jenis kendaraan yang diproduksi diatur secara ketat oleh pemerintah.

Akibatnya, kompetisi nyaris tidak ada, terutama karena investasi asing dibatasi. Rantai pasok pun cenderung domestik, dengan tingkat teknologi rendah dan keterhubungan minim dengan jaringan produksi global. Industri otomotif memang eksis, tetapi stagnan dan kurang kompetitif.

Perubahan besar terjadi pada 1991 ketika pemerintah India melakukan reformasi ekonomi secara menyeluruh. Deregulasi dan penghapusan sistem lisensi industri membuka sektor otomotif bagi pasar, investasi swasta, serta kolaborasi dengan pihak asing. Sejak saat itu, produsen mobil dari Jepang dan Eropa mulai masuk.

Riset “Trade Liberalization and International Production Networks: Experience of the Indian Automotive Sector” mencatat bahwa fase ini menjadi awal kebangkitan industri otomotif India. Transfer teknologi meningkat, standar manufaktur membaik, dan pasar berubah menjadi arena persaingan yang dinamis.

Dari Pasar Domestik ke Basis Produksi Global

Memasuki dekade 2000-an, orientasi industri otomotif India bergeser. India tak lagi sekadar menjadi pasar konsumsi, melainkan diposisikan sebagai basis produksi global. Pertumbuhan industri baja dan besi domestik turut memperkuat fondasi tersebut.

Pabrikan dunia mulai membangun fasilitas manufaktur di India untuk tujuan ekspor, menjadikannya bagian dari rantai pasok otomotif internasional—mulai dari produksi komponen hingga kendaraan utuh.

Peran pemain nasional juga signifikan. Tata Motors berkembang dari produsen lokal menjadi perusahaan otomotif berskala global dengan jaringan produksi lintas negara dan ekspansi pasar internasional.

Meski membuka pintu bagi investor asing, pemerintah India tetap menerapkan kebijakan strategis. Di antaranya kewajiban tingkat kandungan lokal hingga 70% bagi perusahaan asing, serta kewajiban transfer teknologi dan pelatihan tenaga kerja domestik.

Menurut laporan The Atlantic, kebijakan tersebut secara bertahap memperkuat basis manufaktur dalam negeri, terlebih dengan dukungan tenaga kerja yang relatif murah dan terampil. Pada 2004, produksi mobil India masih sekitar 1,18 juta unit—jauh di bawah Korea Selatan yang mencapai 3,12 juta unit. Namun pada 2016, produksi India melonjak hingga sekitar 3,5 juta unit per tahun, menyamai Korea Selatan.

Secara bertahap, India membangun ekosistem rantai pasok yang terintegrasi, mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus pasar ekspor. Pada 2025, sektor ini menjelma menjadi industri otomotif terbesar ketiga di dunia dengan nilai produksi mencapai US$250 miliar, berada di bawah Amerika Serikat dan Tiongkok.

Ke depan, pada 2026, India menargetkan sektor otomotif menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional, dengan kontribusi 12% terhadap PDB, menyumbang 40% sektor manufaktur, serta menciptakan 65 juta lapangan kerja.