🗣️ VOX POPULI

Suara dari Tanah Papua: Refleksi Setelah Menonton Film Pesta Babi

Lensa Data
OPINI
Ahmad Mirzaq
Ahmad Mirzaq
Probolinggo 19 May 2026

Akhir-akhir ini, film Pesta Babi ramai diperbincangkan oleh banyak orang. Banyak warga menonton film tersebut dan membicarakan berbagai pesan yang muncul di dalamnya. Saya, akhirnya memutuskan untuk ikut menonton film itu. Setelah selesai menonton, ada banyak hal yang membuat saya berpikir dan merenung, terutama tentang penderitaan masyarakat Papua yang digambarkan dalam film tersebut.

Pada bagian awal film, saya merasa disadarkan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat Papua bukan hanya persoalan ekonomi atau pembangunan semata. Lebih dari itu, ada persoalan mendasar tentang hak atas tanah, hutan, ruang hidup, dan martabat masyarakat adat. Tanah bagi masyarakat Papua bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari identitas, kehidupan, sejarah, dan warisan leluhur yang harus dijaga.

Film tersebut menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat Papua merasa hak mereka perlahan-lahan diambil, baik melalui penguasaan tanah maupun pembukaan hutan untuk kepentingan perusahaan. Mereka sadar bahwa posisi mereka sangat lemah ketika berhadapan dengan kekuatan besar. Dalam situasi seperti itu, masyarakat seolah tidak memiliki ruang yang cukup untuk melawan, apalagi ketika proses pembukaan lahan digambarkan berlangsung dalam tekanan dan pengawasan yang membuat masyarakat merasa semakin tidak berdaya. Dalam keadaan penuh keterbatasan, doa menjadi salah satu bentuk perlawanan paling sunyi yang mereka miliki.

Salah satu bagian yang paling menyentuh bagi saya adalah ketika masyarakat memasang patung berbentuk salib sebagai simbol doa, harapan, dan permohonan agar tanah mereka tidak diambil alih. Adegan itu sederhana, tetapi maknanya sangat kuat. Di balik simbol tersebut, ada rasa takut, kesedihan, dan harapan agar kehidupan mereka tetap dihargai. Mereka tidak meminta lebih; mereka hanya ingin ruang hidupnya tidak dirampas dan haknya sebagai pemilik tanah dihormati.

Selain melalui doa, film ini juga memperlihatkan bahwa masyarakat tidak tinggal diam. Mereka berusaha melakukan perlawanan dengan cara-cara yang mereka mampu. Perlawanan itu bukan selalu dalam bentuk kekerasan, melainkan dalam bentuk kesadaran bersama, keberanian menyuarakan hak, dan membangun forum-forum masyarakat untuk memperjuangkan tanah serta kehidupan mereka. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki kesadaran kuat terhadap hak-hak mereka, meskipun sering berada dalam tekanan dan keterbatasan.

Hal lain yang menarik dalam film ini adalah munculnya sebuah gerakan masyarakat. Gerakan yang ditampilkan dalam film menjadi simbol bahwa perjuangan mempertahankan tanah dan ruang hidup dilakukan secara bersama-sama. Masyarakat hadir sebagai bagian penting dari perlawanan. Mereka ikut bersuara, ikut menjaga kehidupan, dan ikut mempertahankan tanah yang menjadi sumber hidup keluarga serta generasi mereka.

Bagi saya, gerakan dalam film ini memberikan pesan yang sangat kuat. Masyarakat tidak hanya digambarkan sebagai korban dari keadaan, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki keberanian, kesadaran, dan kekuatan untuk melawan ketidakadilan. Mereka menunjukkan bahwa mempertahankan tanah berarti juga mempertahankan kehidupan, budaya, dan masa depan masyarakat mereka.

Dari film ini, saya juga melihat adanya perbandingan yang menarik untuk direnungkan. Di Papua, pembukaan perusahaan atau lahan baru sering disebut sebagai bagian dari pembangunan dan peluang ekonomi. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah masyarakat setempat benar-benar mendapatkan manfaat dari pembangunan tersebut? Apakah mereka diberi ruang untuk bekerja, terlibat, dan menikmati hasilnya? Ataukah mereka justru hanya menyaksikan tanahnya berubah, sementara kehidupan mereka tetap terpinggirkan?

Jika hal seperti itu dibayangkan terjadi di Kabupaten Probolinggo, tentu pertanyaannya menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Di Probolinggo sendiri, masih banyak masyarakat yang membutuhkan pekerjaan. Jika ada perusahaan besar masuk dan membuka lapangan kerja, mungkin banyak orang akan melihatnya sebagai peluang. Namun, jika pembangunan itu harus mengorbankan tanah, lingkungan, dan ruang hidup masyarakat, maka pertanyaannya menjadi lebih sulit: apakah masyarakat akan memilih bekerja di sana, atau justru mempertahankan tanah mereka?

Tanah adalah hak, dan hak tidak seharusnya dirampas atas nama pembangunan.

Perbandingan ini membuat saya sadar bahwa persoalan tanah bukan hanya persoalan Papua saja. Ini adalah persoalan kemanusiaan yang bisa terjadi di mana saja. Ketika masyarakat membutuhkan pekerjaan, mereka tentu berharap pembangunan dapat membawa kesejahteraan. Namun, kesejahteraan tidak boleh dibangun dengan cara menghilangkan hak masyarakat atas tanahnya. Pekerjaan memang penting, tetapi tanah, lingkungan, dan martabat masyarakat juga tidak kalah penting untuk dilindungi.

Dari film ini, saya mengambil pelajaran bahwa pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang kepentingan negara, perusahaan, atau ekonomi semata. Pembangunan seharusnya juga memperhatikan kepentingan masyarakat yang hidup di wilayah tersebut. Jika pembangunan dilakukan dengan mengorbankan masyarakat adat, merusak hutan, dan memaksa warga meninggalkan tanahnya, maka pembangunan itu perlu dipertanyakan kembali nilai kemanusiaannya.

Menurut saya, negara seharusnya hadir bukan hanya untuk melindungi kepentingan besar, tetapi juga untuk menjaga masyarakat kecil yang memiliki hak atas tanahnya. Masyarakat Papua, sebagaimana masyarakat adat di daerah lain, memiliki hubungan yang sangat kuat dengan alam. Ketika tanah dan hutan mereka hilang, yang hilang bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga budaya, sejarah, dan masa depan mereka.

Film Pesta Babi memberikan ruang bagi penonton untuk melihat persoalan Papua dari sisi yang lebih manusiawi. Film ini tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga mengajak kita untuk bertanya: apakah pembangunan selama ini benar-benar berpihak kepada masyarakat? Apakah suara masyarakat adat sudah didengar? Apakah forum-forum perlawanan masyarakat diberi ruang? Dan apakah masyarakat yang memperjuangkan haknya mendapatkan perhatian yang layak?

Pada akhirnya, Pesta Babi mengajarkan saya bahwa tanah bukan hanya soal kepemilikan, tetapi juga soal kehidupan. Ketika tanah masyarakat adat diambil, maka yang terancam bukan hanya tempat tinggal mereka, tetapi juga masa depan generasi berikutnya. Karena itu, setiap pembangunan harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, keadilan, dan penghormatan terhadap hak masyarakat setempat.

Film ini meninggalkan pesan penting bagi saya: jangan sampai atas nama pembangunan, masyarakat yang seharusnya dilindungi justru merasa terpinggirkan di tanahnya sendiri. Perlawanan masyarakat, forum-forum perjuangan, dan gerakan yang muncul dalam film ini menjadi bukti bahwa mereka bukan masyarakat yang diam. Mereka sedang berjuang mempertahankan hak, martabat, dan masa depan mereka sendiri.

45 kali dibaca

Punya Pendapat Berbeda?

Jangan diam saja! Suarakan gagasan Anda di Kolom Data.
Tulisan Anda berpotensi dibaca jutaan orang.

Tulis Komentar Anda

Komentar (0)

Tinggalkan Jejak Pikiran

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!