TULUNGAGUNG – Upaya mendorong aksesibilitas dan kebijakan yang lebih inklusif dilakukan mahasiswa KKN UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung melalui program Sambang Inklusi di Desa Nglutung, Kecamatan Sendang.

Program yang digagas Divisi Gender, Anak, dan Difabel (GAD) tersebut dilakukan dengan mendatangi langsung rumah warga difabel. Sebanyak sembilan warga difabel usia anak dan remaja menjadi sasaran kunjungan berdasarkan data awal yang dimiliki Pemerintah Desa Nglutung.

Kegiatan yang berlangsung sejak awal Agustus 2026 itu tidak sekadar menjadi agenda kunjungan sosial. Tim KKN juga melakukan pemetaan kondisi warga secara langsung dengan menggabungkan pendekatan humanis dan penghimpunan data mengenai kebutuhan spesifik masing-masing warga.

Petakan Kondisi Warga Secara Langsung

Melalui kunjungan dari rumah ke rumah, tim KKN berupaya memperoleh gambaran kondisi riil sembilan warga difabel yang menjadi sasaran program. Sejumlah aspek turut diperhatikan, mulai dari hambatan fisik, kebutuhan dan ketersediaan alat bantu, hingga kondisi sosial-ekonomi keluarga.

Koordinator Divisi GAD KKN UIN SATU Desa Nglutung, Ahmad Nur Fadil, mengatakan interaksi langsung dengan warga menjadi bagian penting untuk memastikan data yang dihimpun sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Kami hadir memberikan bantuan fisik dan dukungan emosional. Namun lebih dari itu, interaksi tatap muka memungkinkan kami memetakan kondisi riil psikologis dan hambatan mobilitas yang dialami anak-anak difabel secara presisi,” ujarnya di sela kegiatan.

Menurutnya, pendekatan langsung diperlukan agar pemetaan tidak hanya bergantung pada data administratif, tetapi juga mampu menggambarkan kebutuhan warga secara lebih utuh.

Data Disiapkan untuk Advokasi Kebijakan

Seluruh temuan dari kegiatan Sambang Inklusi kemudian dicatat secara terstruktur. Data tersebut akan menjadi bahan penyusunan laporan riset aksi berbasis data riil (data-driven advocacy).

Laporan hasil pemetaan nantinya akan diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Desa Nglutung. Dokumen tersebut diharapkan dapat menjadi instrumen pendukung bagi pemerintah desa dalam menyusun dan mengajukan usulan bantuan maupun intervensi program kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Melalui pemetaan berbasis lapangan tersebut, KKN UIN SATU berupaya memastikan kegiatan pengabdian masyarakat tidak berhenti pada agenda seremonial. Data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah desa dalam memahami kebutuhan warga difabel sekaligus mendorong lahirnya kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Program Sambang Inklusi juga menunjukkan pentingnya keterlibatan langsung masyarakat dalam proses pemetaan kebutuhan. Dengan data yang akurat dan sesuai kondisi lapangan, upaya pemenuhan hak serta aksesibilitas bagi warga difabel di Desa Nglutung diharapkan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.