KRAKSAAN – Kawasan pesisir Pantai Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, dipadati ratusan sukarelawan pada Sabtu (11/4/2026) pagi. Lebih dari 400 orang turun langsung dalam aksi bersih-bersih massal yang berhasil mengumpulkan sedikitnya 2,1 ton sampah anorganik dalam waktu singkat.
Aksi lingkungan ini dipandu langsung oleh tim Sungai Watch yang dipimpin trio pendirinya, Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo, personel TNI, pelajar, serta berbagai elemen masyarakat.
Darurat Sampah Pesisir
Total 2,1 ton sampah yang terkumpul menjadi gambaran nyata bahwa persoalan sampah di wilayah pesisir Probolinggo membutuhkan penanganan serius. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Probolinggo, M. Sjaiful Efendi, yang hadir di lokasi menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mengatasi persoalan tersebut.
“Kolaborasi ini sangat luar biasa. Kita tidak hanya membersihkan pantai secara fisik, tetapi juga mengedukasi masyarakat agar tidak lagi membuang sampah ke sungai maupun laut,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan pihak swasta, seperti PT POMI, yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan. Selain Sjaiful, sejumlah pejabat daerah turut hadir, di antaranya Kepala DLH Roby Siswanto, Kepala Dinas PUPR Hengki Cahjo Saputra, serta jajaran camat dan lurah setempat.
Kegiatan di Kalibuntu merupakan bagian dari kampanye besar Sungai Watch. Gary Bencheghib menjelaskan bahwa timnya tengah menjalankan aksi lari maraton dari Bali menuju Jakarta untuk mengampanyekan isu pencemaran air.
“Kami berlari sekitar 25 kilometer setiap hari dari Jimbaran menuju Jakarta. Di setiap titik persinggahan, kami menggelar aksi nyata seperti di Kalibuntu ini,” ungkapnya.
Menurutnya, meskipun Pemkab Probolinggo telah menunjukkan komitmen kuat, tantangan besar masih dihadapi, terutama pada sektor infrastruktur pengelolaan sampah. Ia menyoroti kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di berbagai daerah yang telah melebihi kapasitas (overload).
Dorong Isu ke Level Nasional
Sungai Watch berharap gerakan berbasis masyarakat ini dapat mendorong perubahan kebijakan di tingkat yang lebih luas. Gary menegaskan bahwa edukasi tentang membuang sampah pada tempatnya saja tidak cukup tanpa diimbangi perbaikan sistem pengelolaan sampah.
“Harapannya, saat kami tiba di Jakarta nanti, aspirasi dan data lapangan ini bisa kami sampaikan langsung kepada Presiden maupun Gubernur. Krisis sampah adalah persoalan bersama yang membutuhkan solusi sistemik,” pungkasnya.