KEDIRI - Rangkaian HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhahanapura 2026 resmi berakhir pada Minggu, 20 September 2026. Penutupan festival tersebut ditandai dengan peluncuran tiga karya literasi yang diterbitkan oleh Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Regional Kediri.

Tiga karya yang diluncurkan tersebut masing-masing berjudul Cerita Anak Dwibahasa, Antologi Puisi Anak, dan Antologi Kritik Sastra Anak. Peluncuran ketiga buku itu menjadi bagian penting dari rangkaian festival sekaligus menjadi upaya GPAN Regional Kediri untuk mendorong lahirnya karya dan perhatian yang lebih besar terhadap perkembangan sastra anak di Indonesia.

Ketua Pelaksana HOMPIMPA! Festivaria, Gema Rohullah Khumaini, mengatakan kehadiran tiga buku tersebut merupakan bentuk respons terhadap masih terbatasnya produksi dan perhatian terhadap sastra anak. Menurutnya, perkembangan literasi tidak cukup hanya ditandai dengan meningkatnya minat terhadap bacaan secara umum, tetapi juga perlu diikuti dengan penguatan karya yang secara khusus ditujukan bagi anak.

“Sastra anak memiliki karakter tersendiri, baik dari bahasa maupun tema yang harus disesuaikan dengan tahapan usia anak. Karena itu, festival ini kami hadirkan tidak hanya sebagai ruang apresiasi, tetapi juga untuk melahirkan karya nyata,” ujar Gema.

Peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari agenda penutup setelah festival berlangsung selama tiga hari. HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhahanapura digelar sejak Jumat, 18 September 2026, di Rumah Budaya - Warung Setono Goerih, Kota Kediri.

Selama tiga hari pelaksanaan, festival tidak hanya menghadirkan kegiatan yang berorientasi pada pembacaan dan pembahasan karya sastra. Panitia juga menghadirkan berbagai kegiatan yang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berinteraksi secara langsung dengan pengalaman literasi melalui beragam medium.

Sejumlah kegiatan seperti Pojok Dongeng, Ekoliterasi, hingga seni pertunjukan menjadi bagian dari rangkaian festival. Kehadiran berbagai bentuk kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman sastra tidak harus berlangsung melalui aktivitas membaca teks semata. Sastra juga dapat dikenalkan melalui cerita, lingkungan, musik, pertunjukan, serta ruang interaksi yang dekat dengan dunia anak.

Pada hari pertama dan kedua, festival diisi dengan sejumlah agenda yang membuka ruang diskusi, pertukaran gagasan, dan kreativitas. Salah satunya adalah Lumbung Srawung bersama KUBUS, Selasar Dharma Melingkar, dan Rendra Agusta.

Rangkaian tersebut menjadi ruang untuk membicarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan sastra dan cerita, termasuk pembahasan mengenai batas antara fiksi dan fakta serta upaya menggali kembali sejarah masa lalu. Diskusi tersebut menjadi bagian dari proses memperluas cara pandang peserta terhadap karya dan pengalaman sastra.

Selain diskusi, pendekatan kultural juga menjadi bagian dari festival melalui sesi Tarik Tembang bersama Danang Wijoyanto. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami cerita dan sastra melalui medium musik dan tembang.

Pendekatan tersebut memperluas pengalaman peserta dalam menikmati karya sastra. Cerita tidak hanya ditempatkan sebagai teks yang dibaca, tetapi juga dapat ditafsirkan melalui bunyi, irama, musik, dan tradisi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan penganugerahan sekaligus peluncuran tiga buku karya literasi anak. Kehadiran ketiga karya tersebut menjadi salah satu hasil konkret dari pelaksanaan HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhahanapura 2026.

Bagi GPAN Regional Kediri, peluncuran Cerita Anak Dwibahasa, Antologi Puisi Anak, dan Antologi Kritik Sastra Anak diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkaya khazanah sastra anak. Ketiga karya tersebut juga menjadi penanda bahwa festival tidak hanya berhenti pada kegiatan apresiasi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan karya yang dapat menjadi bagian dari ekosistem literasi.

Gema menilai sastra anak membutuhkan ruang yang memungkinkan anak-anak dan masyarakat untuk mengenal, menikmati, sekaligus mengembangkan pengalaman mereka terhadap karya sastra. Karena itu, festival dirancang dengan menghadirkan berbagai bentuk kegiatan yang dapat mempertemukan sastra dengan pengalaman sehari-hari.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, GPAN Regional Kediri berharap sastra anak dapat kembali memperoleh ruang yang lebih luas. Sastra anak diharapkan tidak hanya dipandang sebagai bacaan pendamping, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman tumbuh dan berkembang bagi generasi mendatang.

Peluncuran tiga buku pada puncak festival sekaligus menjadi penutup HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhahanapura 2026. Rangkaian kegiatan selama tiga hari tersebut menjadi ruang perjumpaan antara anak, karya sastra, budaya, dan berbagai bentuk ekspresi kreatif yang dihadirkan dalam suasana festival.

GPAN Regional Kediri berharap semangat yang dibangun melalui HOMPIMPA! dapat terus berkembang dan mendorong lahirnya lebih banyak karya sastra anak. Dengan demikian, sastra anak dapat terus hadir sebagai pengalaman literasi yang dekat, menyenangkan, dan bermakna bagi generasi mendatang.