PROBOLINGGO — Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Masa Baru di Desa Jatisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, melakukan inovasi dengan memanfaatkan eceng gondok sebagai pembenah tanah alami untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian.

Inisiatif tersebut mendapat pendampingan dari UPT Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya melalui Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan bersama POPT Pangan dan Hortikultura, serta tim Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kuripan.

Petugas POPT Perkebunan, Ika Ratmawati, menjelaskan bahwa eceng gondok yang selama ini dikenal sebagai gulma perairan memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali. Tanaman tersebut mampu menyerap dan menyimpan sisa nutrisi dari pupuk yang terbawa aliran air.

“Eceng gondok menyimpan unsur hara dari sisa pupuk di perairan. Kandungan nutrisinya cukup tinggi sehingga dapat diolah menjadi pembenah tanah untuk membantu memulihkan kesuburan lahan,” ujarnya di Probolinggo, Sabtu (4/4/2026).

Proses pembuatannya dinilai sederhana dan terjangkau. Bahan yang digunakan meliputi 5 kilogram eceng gondok, 1 kilogram kulit nanas, 250 mililiter EM4, 250 mililiter molase, serta 10 liter air. Seluruh bahan tersebut difermentasi selama satu bulan hingga siap digunakan.

Setelah proses fermentasi selesai, larutan pembenah tanah diaplikasikan dengan cara dikocor atau disiramkan ke lahan dengan perbandingan 1 liter larutan untuk 10 liter air. Metode ini memungkinkan petani memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Menurut Ika, penggunaan bahan alami seperti eceng gondok tidak hanya meningkatkan produktivitas tanah, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian secara berkelanjutan.

Sementara itu, Petugas POPT Pangan dan Hortikultura, Panji Ramadhan, menyarankan agar pembenah tanah diaplikasikan saat proses pengolahan lahan atau sebelum masa tanam dimulai. Langkah ini dinilai efektif untuk mempersiapkan kondisi tanah agar lebih optimal saat ditanami.

Ketua Kelompok Tani Masa Baru, Karsan, menyambut positif inovasi tersebut. Ia menilai langkah ini penting dalam mendorong kemandirian petani, khususnya dalam memproduksi pupuk organik dan pembenah tanah secara mandiri.

“Petani harus mampu mandiri. Dengan cara alami seperti ini, kami dapat secara bertahap mengembalikan kesuburan tanah tanpa ketergantungan berlebihan pada pupuk kimia,” katanya.

Melalui inovasi pemanfaatan eceng gondok ini, diharapkan semakin banyak petani di Kabupaten Probolinggo yang terdorong menerapkan praktik pertanian ramah lingkungan guna menjaga produktivitas lahan secara berkelanjutan.